Ember itu Lagi

Setahun yang lalu ia hanya berani berbisik, tapi detik ini ia dianugerahi keberanian untuk bisa terdengar, api nya membara. 

Membara bagaikan sebuah keran bocor yang kemudian terus menumpahkan air, mengalir meluap, mengalir meluap, dan mengalir lagi, diatas ember hitam berlumut kehijauan. 

Ia menyimpan air, dan waktu... dan ember. 

Akankah ember itu akan selalu diam, meski ia penuh dan meluap-luap? Tidak ada yang tahu. Tapi apakah ia sesak meskipun air yang meluap-luap sudah keluar? Tidak ada yang tahu juga.

Apakah dia berhenti menjadi ember? Tidak. Meski meluap-luap, ia setia menadah. Ketulusannya tumbuh, sebab ia pernah kosong.

Hah... Ember... Ember... 

Ringan sekali, hatinya.

Komentar

Postingan Populer