Ruang Harap
Malam itu hanya ada hening di dalam ruang harap, di iringi musik balada, ia selalu bersembunyi di dalam sana. Telah lama dirinya berhenti memecah tawa, akhir-akhir ini beliau sibuk menikmati sayat.
"Hahaha, untuk apa tertawa?" Katanya. "Untuk apa tertawa di atas dunia yang isinya manusia-manusia cari muka pada manusia lainnya hanya agar terlihat lebih manusiawi."
Ruang harap banyak bersetubuh dengan rahasia-rahasia yang lama kelamaan menjadi gelap tak terjajah. Cita asa yang awal mulanya menggema, berubah bagaikan warna-warna harap yang sudah lama luntur seperti mimpi anak-anak gelandangan.
Semestinya di sana bintang-bintang bergurau tentang siapa yang sepantasnya menjadi bintang paling berkilau di luasnya langit gemerlap, atau terang benderang senyum si bulan hadir menjadi pemenangnya, jika nantinya doa-doa itu perlu penyambutan.
Semestinya.
Namun di dalam ruang harap, hanya ada bisik buku-buku yang dipenuhi belatung, diiringi irama dengan notasi hitam legam menggantikan musik balada yang terdengar mengerikan dari radio buangan miliknya.
Ia selalu bertanya-tanya mengapa doa-doa itu tak pernah sampai, seakan tiada ruang untuk mereka. Tiada yang terkabul, saban malam di dalam ruang harap, ia tersadar bahwa dirinya telah lama kehilangan suara.
Ia telah lama berhenti bernyawa.
Malam itu hanya ada hening di dalam ruang harap.
Dan ia tak lagi sanggup berdoa.
Komentar
Posting Komentar