Ingar-Bingar Mu

Ia bersemarak ria pada awalnya, entah untuk apa,
Setelah itu, ia bagaikan manusia melankolis,
Terkadang, ia juga membengis berapi-api,
Dan cukup sering pula ia menangis meraung-raung.

Aku berucap kepadanya,
“Menangislah, menangislah sebesar yang kau inginkan,
Menangislah sebesar yang kau perlukan,
Menangislah sebesar yang selama ini kau harapkan,
Menangislah, Manusia.”

Entah angin sekencang apa, dan hujan sederas apa yang telah ia telan mentah-mentah,
Entah espektasi yang sepahit apa, dan lelah yang bagaimana, yang ia maknai begitu dalam,
Hingga membuat insan berakal seperti nya menjadi hilang akal.

Aku terbangun di pagi hari dengan ingar-bingar yang begitu memekakkan telinga,
Pantas saja ia tetap membengis berapi-api,
Pantas saja ia tetap menangis meraung-raung.

Aku ucapkan kalimat itu di dalam hati.

Komentar

Postingan Populer