Sudah Berapa Lama?

Setiap malam sebelum merapal nasib nya pada bintang-bintang di angkasa, ia menyogok tanaman di depan teras rumahnya dengan cara menyiram mereka, katanya untuk biaya tutup mulut karena sudah berani mendengar percakapannya dengan para bintang.

Entah apa lagi monolog nya pada bintang jantan dan bintang betina malam itu, lain hari sebelumnya ia telah merapalkan hal-hal baik, cukup banyak ia berharap pada dunia, namun sampai sekarang hal-hal baik tak kunjung mampir.

Hal-hal baik tak menghampirinya, bahkan untuk sebatas singgah ke halaman rumah, tak juga rupanya. Halaman gemuruh gersang , daun-daun rontok, buah pepohonan yang membusuk adalah defenisi halaman buruk rupa.

Ia menyeka keringat, berharap bagai olahraga penuh tuntutan, tak tumbuh otot pun. Ia lelah, lelah mengasing, inginnya melebur, namun harapnya belum terkabul, atau malah tak terkabul.

Kenapa? kenapa? kenapa?
Bukankah aku sudah cukup banyak berharap?
Namun, kenapa?

Benar, katanya cukup banyak.
Artinya telah cukup,
Dan cukup,
Cukup.
Cukup!
CUKUP!

Harapan baik itu menyedihkan.









Komentar

Postingan Populer