Sudut Sunyi

Hari ini ternyata ia lebih banyak berpura-pura, menyimpan seribu seksara yang konon katanya masih setia, seribu nota dusta ternyata turut andil menggerogoti tulang-belulang dan menajdi bagian dari anatomi tubuh miliknya. 

Tangan ringkih yang lincah gemulai, terlihat cekatan. Kenyataan nya, dipenuhi gemetar yang merenggut sang jiwa.

Lepas tawa itu, penuh gembira dan hahaha. Padahal, di depan cermin hanya ada tatap miris dan seringai yang cemooh sang raga. Sesak, sesak di dada itu kian mengembang, telah menggeliat panas ia menampung segala isinya, baik norma dan seisi dunia.

Sang dada berdenyut luar biasa, seperti tak tergoda untuk mereda lebih lama.

Kebenaran hanya bagaikan ruang kosong tanpa sang pintu, selayaknya menulis puisi rahasia, atau selayaknya menulis nada-nada dari sudut sunyi piano tua, yang penuh ruang gema. Kejujuran bagaikan berjalan dengan kaki telanjang tanpa sepasang sepat di antara debu dan sisa pedal, juga diantara aspal panas yang menyentuh jari kaki, hingga lama-lama terbungkus si luka. 

Si luka yang selama ini bungkam dan kita sebut "baik-baik saja," ternyata sudah memilih bertanya kepada para kumpulan tawang yang memeluk realita.

"Mengapa kita semua berpura-pura dan berdiam diri diantara ambang-ambang dusta dan nyata, hanya untuk selalu bisa diterima?"

Sedangkan hidup di dunia ini hanya soal karsa dan takhta.

Komentar

Postingan Populer