Pendendam Ulung


Jika ia tumbuh menjadi seorang pendendam, apakah dirinya akan menjadi manusia hina?

Lampu jalanan sudah redup kala itu, matanya gagal melihat ke dalam dunia yang telah remang-remang, dan hembusan angin malam bagaikan pedang bermata dua yang dapat menyayat kulit halus nya.

Ah, muak sekali merawat bara api yang mengakar dalam tubuh ini.

Hitam, putih, hitam, putih, dan langkah kecil itu masih menyusuri trotoar dengan sisa-sisa bau keringat para pedagang kaki lima, sangat mengganggu.

"Halo?" Suara sapaan itu bergema dengan nada pertanyaan, mencari siapapun dan apapun yang akan menyahuti kesendiriannya. Tapi, apakah ada? Apakah ada? Oh, apakah ada yang mendengarkan?

Bagaimana rasanya terjepit di antara keheningan kota dan sayup-sayup rasa dendam? Apakah dada masih sama sesaknya saat basah kuyup sehabis menyelam dan tenggelam dalam laut kenikmatan malam?  

Seribu cara membakar kepalanya, memikirkan bagaimana membalaskan semua dendam ini dengan aman tanpa merasa terancam, atau apakah ada jalan lain untuk meredam rasa ini saat seluruh bara yang menjalar itu menikamnya dengan tajam?  

"Memaafkan."

Ia mendengar angin malam berhembus lagi, bagaikan pedang bermata dua yang dapat menyayat kulit halus nya. Ah, ternyata ada yang mendengarkan.

"Mungkin bisa membuat segalanya padam."

Segalanya? Segalanya? Segalanya... Termasuk diri sendiri?

Mungkin, kan?

Komentar

Postingan Populer