Diksi-Diksi Murahan

Ia sudahi merajut diksi-diksi murahan yang tak berirama itu, sebab telah tumbuh keragu-raguan di antara seribu satu rongga tubuhnya.

Tapi, kerap kali ia merapat ke tepian toko-toko yang sudah tak dibenahi, memaksakan ruang dan waktu serta isi kepala yang tidak seberapa itu untuk kembali merajut diksi-diksi murahan yang tidak ada harganya itu.

Sampah! Murah!

Tapi oh tapi, lagi dan lagi, keragu-raguan baginya hanyalah semu belaka, kembali ia mengasing, di antara pelataran rumah-rumah kumuh yang selalu menerima nya, mengorbankan diri untuk merajut diksi-diksi itu di antara keterasingan, diantara gemercik bintang pada langit yang juga fana, diantara perhentian yang begitu lara dan berantakan.

Esoknya, sayang sekali, sayang seribu sayang, Diksi-diksi itu masih belum selesai, ah sial. ia baru menyadari satu hal, apa memang ada diksi-diksi yang tidak diizinkan untuk selesai di atas muka bumi ini? Hanya karena diciptakan di tempat-tempat kumuh yang terasing.

Kemarin, ia telah pindah berpijak diatas gemuruh amarah, namun malam ini diksi-diksi nya menggema dengan kesunyian yang lantang. hahahaha, tapi sayang, bukan itu kenyataannya.

Kenyataanya, gemercik bintang di langit masih tetap fana, dan kenyataannya lagi, kelak, kemudian, nanti ataupun keesokannya diksi-diksi itu tak pernah selesai, itu kenyataannya.

Diksi-diksi itu masih belum selesai, ah sial

Komentar

Postingan Populer