Amarah Itu Merampak Jiwa
Saat separuh insan diatas bentala sibuk bersukacita, ia malah bagai jam dinding analog yang diam seribu bahasa, turut sibuk mengurai luka nan tenggelam pada bilik-bilik imajiner miliknya.
Ah, Ingin sekali ia memaki dunia, namun hujan meredam umpatannya, Bangsat! Punya hak apa hujan ini menemaninya, telah muak ia hidup penuh kecewa sedangkan amarah tidak menyelesaikan apa-apa.
Tidak adil. Ini tidak adil sebab ia selama ini hidup bagai pecundang yang dibiarkan menjadi tarum, masalah-masalah itu naksir berat padanya, ia bingung setengah mati. Penuh murka sampai-sampai rasanya hangus terbakar oleh kemarahannya.
Dasar manusia gila. Padahal ia punya Tuhan yang mahakuasa, tapi ia melupakan itu, apa jangan-jangan karena ia hilang akal?
Tidak adil.
Komentar
Posting Komentar